Laman

Tuesday, 7 August 2018

Mesin Pencacah Kompos Sampah Organik

Mesin Pencacah Kompos Sampah Organik

Alat pencacah daun manual, cara membuat mesin pencacah daun sederhana, cara membuat mesin pencacah kompos, cara membuat mesin pencacah sampah organik, fungsi mesin pencacah kompos, harga alat pengolah pupuk organik (appo), harga mesin kompos mini, harga mesin mixer kompos, harga mesin pemilah sampah, harga mesin pencacah kompos mini, harga mesin pencacah sampah, harga mesin pencacah sampah mini, harga mesin pencacah sampah plastik, harga mesin penggiling kotoran kambing, jual mesin kompos bekas, jual pencacah sampah, katalog produk mesin pencacah kompos, kegunaan alat perajang sampah organik, mesin giling kompos, mesin pembuat kompos mini, mesin pencacah kompos jakarta, mesin pencacah kompos kubota, mesin pencacah rumput, mesin penggiling kompos, mesin penghancur sampah rumah tangga, pabrikasi pertanian, pembuat kompos portable, pembuat pupuk kompos, pencacah sampah manual, pengayak kompos manual, penghancur sampah, rancang bangun alat pencacah sampah organik



 SPESIFIKASI MESIN PENCACAH KOMPOS


  • TIPE                                  : KM-1500K
  • DIMENSI                           : 1250X700X1100 MM
  • KAPASITAS                      1200-1500 KG/JAM
  • PENGERAK                      : DIESEL 24 HP
  • DIA. TABUNG                  : 400 MM
  • PANJANG TABUNG        : 700 MM
  • TEBAL TABUNG              : 3 MM
  • PISAU GERAK                 : 24 BUAH
  • PISAU DIAM                    : 12 BUAH
  • MATERIAL PISAU           : PISAU BAJA
  • MATERIAL RANGKA     UNP BESI

Video Mesin Pencacah Kompos Atau Mesin Penggiling Kompos Sampah Organik








Kompos dari sampah dedaunan & Kompos dari jerami padi

Kompos merupakan hasil penguraian parsial/tidak komplet dari kombinasi beberapa bahan organik yang bisa dipercepat dengan artifisial oleh populasi beberapa jenis mikroba dalam keadaan lingkungan yang hangat, lembap, serta aerobik atau anaerobik (Modifikasi dari J. H. Crawford, 2003). Sedang pengomposan merupakan proses dimana bahan organik alami penguraian dengan biologis, terutamanya oleh mikroba-mikroba yang manfaatkan bahan organik menjadi sumber daya. Membuat kompos merupakan mengatur serta mengatur proses alami itu supaya kompos bisa tercipta lebih cepat. Proses ini mencakup membuat kombinasi bahan yang seimbang, pemberian air yang cukuplah, penyusunan aerasi, serta menambahkan aktivator pengomposan.

Sampah terbagi dalam dua sisi, yakni sisi organik serta anorganik. Rata-rata prosentase bahan organik sampah sampai ±80%, hingga pengomposan adalah pilihan perlakuan yang sesuai dengan. Kompos begitu punya potensi untuk di kembangkan mengingat makin tingginya jumlahnya sampah organik yang dibuang ke tempat pembuangan akhir serta mengakibatkan terjadinya polusi berbau serta lepasnya gas metana ke hawa. DKI Jakarta membuahkan 6000 ton sampah sehari-harinya, dimana seputar 65%-nya merupakan sampah organik. Serta dari jumlahnya itu, 1400 ton dibuat oleh semua pasar yang berada di Jakarta, dimana 95%-nya merupakan sampah organik. Lihat besarnya sampah organik yang dibuat oleh penduduk, tampak kemampuan untuk memproses sampah organik jadi pupuk organik untuk kelestarian lingkungan serta kesejahteraan penduduk (Rohendi, 2005).


Dengan alami beberapa bahan organik akan alami penguraian di alam dengan pertolongan mikroba ataupun biota tanah yang lain. Akan tetapi proses pengomposan yang berlangsung dengan alami berjalan lama serta lamban. Untuk percepat proses pengomposan ini sudah banyak di kembangkan teknologi-teknologi pengomposan. Baik pengomposan dengan tehnologi simpel, tengah, ataupun tehnologi tinggi. Pada prinsipnya peningkatan tehnologi pengomposan didasarkan pada proses penguraian bahan organik yang berlangsung dengan alami. Proses penguraian dimaksimalkan demikian rupa hingga pengomposan bisa berjalan lebih cepat serta efektif. Tehnologi pengomposan sekarang ini jadi begitu terpenting berarti terpenting untuk menangani persoalan sampah organik, seperti untuk menangani permasalahan sampah di kota-kota besar, sampah organik industri, dan sampah pertanian serta perkebunan.

Tehnologi pengomposan sampah begitu bermacam, baik dengan aerobik ataupun anaerobik, tanpa atau dengan aktivator pengomposan. Aktivator pengomposan yang banyak tersebar diantaranya : PROMI (Promoting Microbes), OrgaDec, SuperDec, ActiComp, BioPos, EM4, Green Phoskko Organic Decomposer serta SUPERFARM (Effective Microorganism) atau memakai cacing untuk memperoleh kompos (vermicompost). Tiap-tiap aktivator mempunyai kelebihan sendiri-sendiri.

Pengomposan dengan aerobik sangat banyak dipakai, karena gampang serta murah untuk dikerjakan, dan tidak memerlukan kontrol proses yang sangat susah. Dekomposisi bahan dikerjakan oleh mikroorganisme didalam bahan tersebut dengan pertolongan hawa. Sedang pengomposan dengan anaerobik manfaatkan mikroorganisme yang tidak memerlukan hawa dalam mendegradasi bahan organik.

Hasil akhir dari pengomposan ini adalah bahan yang begitu diperlukan untuk kebutuhan tanah-tanah pertanian di Indonesia, menjadi usaha untuk melakukan perbaikan karakter kimia, fisika serta biologi tanah, hingga produksi tanaman jadi tambah tinggi. Kompos yang dibuat dari pengomposan sampah bisa dipakai untuk memperkuat susunan tempat gawat, menggemburkan kembali tanah pertanian, menggemburkan kembali tanah petamanan, menjadi bahan penutup sampah di TPA, eklamasi pantai saat penambangan, serta menjadi media tanaman, dan kurangi pemakaian pupuk kimia.

Bahan baku pengomposan merupakan semua material yang memiliki kandungan karbon serta nitrogen, seperti kotoran hewan, sampah hijauan, sampah kota, lumpur cair serta sampah industri pertanian. Tersebut diberikan beberapa bahan yang umum jadikan bahan baku pengomposan.

Jenis-jenis kompos


Kompos cacing (vermicompost), yaitu kompos yang terbuat dari bahan organik yang dicerna oleh cacing. Yang menjadi pupuk adalah kotoran cacing tersebut.
Kompos bagase, yaitu pupuk yang terbuat dari ampas tebu sisa penggilingan tebu di pabrik gula.
Kompos bokashi.

Manfaat Kompos

Kompos melakukan perbaikan susunan tanah dengan tingkatkan kandungan bahan organik tanah serta akan tingkatkan potensi tanah untuk menjaga kandungan air tanah. Kegiatan mikroba tanah yang berguna buat tanaman akan bertambah dengan menambahkan kompos. Kegiatan mikroba ini menolong tanaman untuk menyerap unsur hara dari tanah. Kegiatan mikroba tanah juga d iketahui bisa menolong tanaman melawan serangan penyakit.

Tanaman yang dipupuk dengan kompos juga condong lebih baik mutunya dibanding tanaman yang dipupuk dengan pupuk kimia, seperti jadikan hasil panen lebih tahan disimpan, lebih berat, lebih fresh, serta lebih enak.

Kompos mempunyai banyak faedah yang dilihat dari beberapa segi :

Segi Ekonomi :


Mengirit cost untuk transportasi serta penumpukan limbah
Kurangi volume/ukuran limbah
Mempunyai nilai jual yang tambah tinggi dibanding bahan asalnya
Segi Lingkungan :

Kurangi polusi hawa karena pembakaran sampah serta pelepasan gas metana dari sampah organik yang membusuk karena bakteri metanogen ditempat pembuangan sampah
Kurangi keperluan tempat untuk penimbunan
Segi buat tanah/tanaman :

Tingkatkan kesuburan tanah
Melakukan perbaikan susunan serta karakter tanah
Tingkatkan kemampuan penyerapan air oleh tanah
Tingkatkan kegiatan mikroba tanah
Tingkatkan kualitas hasil panen (perasaan, nilai gizi, serta jumlahnya panen)
Menyiapkan hormon serta vitamin buat tanaman
Mendesak pertumbuhan/serangan penyakit tanaman
Tingkatkan retensi/ketersediaan hara didalam tanah
Peranan bahan organik pada karakter fisik tanah salah satunya merangsang granulasi, melakukan perbaikan aerasi tanah, serta tingkatkan potensi meredam air. Peranan bahan organik pada karakter biologis tanah merupakan tingkatkan kegiatan mikroorganisme yang bertindak pada fiksasi nitrogen serta transfer hara spesifik seperti N, P, serta S. Peranan bahan organik pada karakter kimia tanah merupakan tingkatkan kemampuan ganti kation hingga merubah serapan hara oleh tanaman (Gaur, 1980).

Beberapa studi sudah dikerjakan berkaitan faedah kompos buat tanah serta perkembangan tanaman. Riset Abdurohim, 2008, tunjukkan jika kompos memberi penambahan kandungan Kalium pada tanah tambah tinggi dibanding kalium yang disiapkan pupuk NPK, akan tetapi kandungan fosfor tidak tunjukkan ketidaksamaan yang riil dengan NPK. Hal seperti ini mengakibatkan perkembangan tanaman yang ditelitinya saat itu, caisin (Brassica oleracea), jadi lebih baik dibanding dengan NPK.

Hasil riset Handayani, 2009, berdasar pada hasil uji Duncan, pupuk cacing (vermicompost) memberi hasil perkembangan yang terunggul pada perkembangan bibit Salam (Eugenia polyantha Wight) pada media tanam subsoil. Indikatornya ada pada diameter batang, dan lain-lain. Hasil riset juga tunjukkan jika menambahkan pupuk anorganik tidak memberi dampak apa pun pada perkembangan bibit, mengingat media tanam subsoil adalah media tanam dengan pH yang rendah hingga penyerapan hara tidak maksimal. Pemberian kompos akan meningkatkan bahan organik tanah hingga tingkatkan kemampuan ganti kation tanah serta merubah serapan hara oleh tanah, walaupun tanah dalam kondisi masam.

Dalam suatu artikel yang diedarkan Departemen Agronomi serta Hortikultura, Institut Pertanian Bogor mengatakan jika kompos bagase (kompos yang dibikin dari ampas tebu) yang diterapkan pada tanaman tebu (Saccharum officinarum L) tingkatkan penyerapan nitrogen dengan berarti sesudah tiga bulan pengaplikasian dibanding degan yang tanpa kompos, akan tetapi tidak ada penambahan yang bermakna pada penyerapan fosfor, kalium, serta sulfur. Pemakaian kompos bagase dengan pupuk anorganik dengan berbarengan tidak tingkatkan laju perkembangan, tinggi, serta diameter dari batang, akan tetapi diprediksikan bisa tingkatkan rendemen gula dalam tebu.

Dasar-dasar Pengomposan

Beberapa bahan yang Bisa Dikomposkan
Pada intinya semua beberapa bahan organik padat bisa dikomposkan, contohnya : sampah organik rumah tangga, sampah-sampah organik pasar/kota, kertas, kotoran/limbah peternakan, limbah-limbah pertanian, limbah-limbah agroindustri, sampah pabrik kertas, sampah pabrik gula, sampah pabrik kelapa sawit, dan lain-lain. Bahan organik yang susah untuk dikomposkan diantaranya : tulang, sundul, serta rambut. Bahan yang terbaik menurut ukuran waktu, untuk dibikin jadi kompos dinilai dari rasio karbon serta nitrogen didalam bahan/material organik seperti sampah pertanian : ampas tebu serta kotoran ternak dan tertera di atas. Bahan organik yang sudah disusun oleh Sinaga dkk. (2010) dari beberapa kombinasi dengan nilai rasio C/N = 35, 68 serta keadaan kandungan airnya 50, 37%, waktu dekomposisi didapat terpendek 28 hari di banding yang lain.

Proses Pengomposan

Proses pengomposan akan selekasnya berjalan sesudah beberapa bahan mentah digabung. Proses pengomposan dengan simpel bisa dibagi jadi dua step, yakni step aktif serta step pematangan. Saat tahap-tahap awal proses, oksigen serta senyawa-senyawa yang gampang terdegradasi akan selekasnya digunakan oleh mikroba mesofilik. Suhu tumpukan kompos akan bertambah secara cepat. Demikian juga akan dibarengi dengan penambahan pH kompos. Suhu akan bertambah sampai diatas 50 - 70 oC. Suhu tetap akan tinggi saat waktu spesifik. Mikroba yang aktif pada keadaan ini merupakan mikroba Termofilik, yakni mikroba yang aktif pada suhu tinggi. Pada sekarang ini berlangsung dekomposisi/penguraian bahan organik yang begitu aktif. Mikroba-mikroba didalam kompos dengan memakai oksigen akan menguraikan bahan organik jadi CO2, uap air serta panas. Sesudah sejumlah besar bahan sudah terurai, karena itu suhu akan makin lama makin alami penurunan. Pada sekarang ini berlangsung pematangan kompos tingkat lanjut, yakni pembentukan komplek simak humus. Saat proses pengomposan akan berlangsung penyusutan volume ataupun biomassa bahan. Pengurangan ini bisa sampai 30 – 40% dari volume/bobot awal bahan.

Pola Proses Pengomposan Aerobik

Proses pengomposan bisa berlangsung dengan aerobik (memakai oksigen) atau anaerobik (tidak ada oksigen). Proses yang diterangkan awal mulanya merupakan proses aerobik, dimana mikroba memakai oksigen dalam proses dekomposisi bahan organik. Proses dekomposisi juga dapat berlangsung tanpa memakai oksigen yang dimaksud proses anaerobik. Akan tetapi, proses ini tidak diharapkan, karena saat proses pengomposan akan dibuat berbau yang tidak enak. Proses anaerobik akan membuahkan senyawa-senyawa yang bau tidak enak, seperti : asam-asam organik (asam asetat, asam butirat, asam valerat, puttrecine), amonia, serta H2S.

Faktor yang memengaruhi proses Pengomposan

Tiap-tiap organisme pendegradasi bahan organik memerlukan keadaan lingkungan serta bahan yang berlainan. Jika kondisinya sesuai dengan, karena itu dekomposer itu akan bekerja keras untuk mendekomposisi sampah padat organik. Jika kondisinya kurang cocok atau tidak cocok, karena itu organisme itu akan dorman, geser ke lain tempat, atau bahkan juga mati. Membuat keadaan yang optimum untuk proses pengomposan begitu memastikan kesuksesan proses pengomposan tersebut.

Beberapa faktor yang memperngaruhi proses pengomposan diantaranya :

Rasio C/N

Rasio C/N yang efisien untuk proses pengomposan sekitar pada 30 : 1 sampai 40 : 1. Mikroba memecah senyawa C menjadi sumber daya serta memakai N untuk sintesis protein. Pada rasio C/N diantara 30 sampai dengan 40 mikroba memperoleh cukuplah C untuk daya serta N untuk sintesis protein. Jika rasio C/N sangat tinggi, mikroba akan kekurangan N untuk sintesis protein hingga dekomposisi berjalan lamban.
Biasanya, permasalahan utama pengomposan merupakan pada rasio C/N yang tinggi, terpenting bila bahan utamanya merupakan bahan yang memiliki kandungan kandungan kayu tinggi (bekas gergajian kayu, ranting, ampas tebu, dll). Untuk turunkan rasio C/N dibutuhkan perlakuan spesial, contohnya memberikan mikroorganisme selulotik (Toharisman, 1991) atau mungkin dengan memberikan kotoran hewan karena kotoran hewan memiliki kandungan banyak senyawa nitrogen.

Ukuran Partikel

Kegiatan mikroba ada diantara permukaan ruang serta hawa. Permukaan ruang yang lebih luas akan tingkatkan kontak pada mikroba dengan bahan serta proses dekomposisi akan berjalan lebih cepat. Ukuran partikel juga memastikan besarnya ruangan antar bahan (porositas). Untuk tingkatkan luas permukaan bisa dikerjakan dengan mengecilkan ukuran partikel bahan itu.

Aerasi

Pengomposan yang cepat bisa berlangsung dalam keadaan yang cukuplah oksigen (aerob). Aerasi dengan alami akan berlangsung ketika berlangsung penambahan suhu yang mengakibatkan hawa hangat keluar serta hawa yang lebih dingin masuk ke tumpukan kompos. Aerasi dipastikan oleh porositas serta kandungan air bahan (kelembaban). Jika aerasi terhalang, maka dapat berlangsung proses anaerob yang akan membuahkan berbau yang tidak enak. Aerasi bisa ditingkatkan dengan lakukan pembalikan atau menyalurkan hawa didalam tumpukan kompos.

Porositas

Porositas merupakan ruangan diantara partikel didalam tumpukan kompos. Porositas dihitung dengan mengukur volume rongga dibagi dengan volume keseluruhan. Rongga-rongga ini akan di isi oleh air serta hawa. Hawa akan mensuplay Oksigen untuk proses pengomposan. Jika rongga dijenuhi oleh air, karena itu supply oksigen akan menyusut serta proses pengomposan akan terganggu.

Kelembapan (Moisture konten)

Kelembaban memegang fungsi yang begitu terpenting dalam proses metabolisme mikroba serta otomatis punya pengaruh pada suplay oksigen. Mikrooranisme bisa manfaatkan bahan organik jika bahan organik itu larut didalam air. Kelembaban 40 - 60 persen merupakan rata-rata optimum untuk metabolisme mikroba. Jika kelembaban dibawah 40%, kegiatan mikroba akan alami penurunan serta semakin lebih rendah lagi pada kelembaban 15%. Jika kelembaban semakin besar dari 60%, hara akan tercuci, volume hawa menyusut, mengakibatkan kegiatan mikroba akan alami penurunan serta akan berlangsung fermentasi anaerobik yang memunculkan berbau tidak enak.

Temperatur/suhu

Panas dibuat dari kegiatan mikroba. Ada jalinan secara langsung pada penambahan suhu dengan mengkonsumsi oksigen. Makin tinggi temperatur akan makin banyak mengkonsumsi oksigen serta akan makin cepat juga proses dekomposisi. Penambahan suhu bisa berlangsung secara cepat pada tumpukan kompos. Temperatur yang sekitar pada 30 - 60oC tunjukkan kegiatan pengomposan yang cepat. Suhu yang tambah tinggi dari 60oC akan membunuh beberapa mikroba serta cuma mikroba thermofilik saja yang tetap akan bertahan hidup. Suhu yang tinggi akan membunuh mikroba-mikroba patogen tanaman serta benih-benih gulma.

pH

Proses pengomposan bisa berlangsung pada rata-rata pH yang lebar. pH yang optimum untuk proses pengomposan sekitar pada 6. 5 sampai 7. 5. pH kotoran ternak biasanya sekitar pada 6. 8 sampai 7. 4. Proses pengomposan sendiri akan mengakibatkan pergantian pada bahan organik serta pH bahan tersebut. Menjadi contoh, proses pelepasan asam, dengan temporer atau lokal, akan mengakibatkan penurunan pH (pengasaman), sedang produksi amonia dari senyawa-senyawa yang memiliki kandungan nitrogen akan tingkatkan pH pada fase-fase awal pengomposan. pH kompos yang telah masak umumnya mendekati netral.

Kandungan Hara

Kandungan P serta K penting juga dalam proses pengomposan serta bisanya ada didalam kompos-kompos dari peternakan. Hara ini akan digunakan oleh mikroba saat proses pengomposan.
Kandungan Bahan Berbahaya
Beberapa bahan organik mungkin saja memiliki kandungan beberapa bahan yang beresiko buat kehidupan mikroba. Logam-logam berat seperti Mg, Cu, Zn, Nickel, Cr merupakan beberapa bahan yang termasuk juga kelompok ini. Logam-logam berat akan alami imobilisasi saat proses pengomposan.

Lama pengomposan

Lama waktu pengomposan bergantung pada karakter bahan yang dikomposkan, cara pengomposan yang dipakai serta tanpa atau dengan menambahkan aktivator pengomposan. Dengan alami pengomposan akan berjalan kurun waktu beberapa minggu sampai 2 tahun sampai kompos betul-betul masak.

Strategi Mempercepat Proses Pengomposan

Merekayasa Keadaan Pengomposan

Strtegi ini banyak dikerjakan di awal-awal mengembangnya tehnologi pengomposan. Keadaan atau beberapa faktor pengomposan dibikin seoptimum mungkin saja. Menjadi contoh, rasio C/N yang optimum merupakan 25-35 : 1. Untuk bikin keadaan ini beberapa bahan yang memiliki kandungan rasio C/N tinggi digabung dengan bahan yang memiliki kandungan rasio C/N rendah, seperti kotoran ternak. Ukuran bahan yang besar-besar dicacah hingga ukurannya lumayan kecil serta baik untuk proses pengomposan. Bahan yang sangat kering dikasih penambahan air atau bahan yang sangat basah dikeringkan terlebih dulu sebelum proses pengomposan. Demikian juga untuk beberapa faktor yang lain

Merekayasa Keadaan serta Memberikan Aktivator Pengomposan

Taktik proses pengomposan yang sekarang ini banyak di kembangkan merupakan mengabungkan dua taktik diatas. Keadaan pengomposan dibikin seoptimal mungkin saja dengan memberikan aktivator pengomposan.

Pertimbangan untuk memastikan taktik pengomposan

Sering tidak bisa mengaplikasikan semua taktik pengomposan diatas kurun waktu yang berbarengan. Ada banyak pertimbangan yang bisa dipakai untuk memastikan taktik pengomposan :

Karakter bahan yang akan dikomposkan.

Waktu yang ada untuk pembuatan kompos.
Cost yang dibutuhkan serta hasil yang bisa diraih.
Tingkat kesusahan pembuatan kompos

Pengomposan dengan aerobik

Peralatan

Perlengkapan yang diperlukan dalam pengomposan dengan aerobik terbagi dalam perlengkapan untuk perlakuan bahan serta perlengkapan perlindungan keselamatan serta kesehatan buat pekerja. Tersebut diberikan perlengkapan yang dipakai.

Terowongan hawa (Aliran Hawa)

Dipakai menjadi basic tumpukan serta aliran udara
Terbuat dari bambu serta rangka penguat dari kayu
Dimensi : panjang 2m, lebar ¼ - ½ m, tinggi ½ m
Pojok : 45o
Bisa digunakan meredam bahan 2 – 3 ton

Sekop

Alat bantu dalam pengayakan serta tugas-tugas lainnya

Garpu/cangkrang

Dipakai untuk menolong proses pembalikan tumpukan bahan serta pemilahan sampah

Saringan/ayakan

Dipakai untuk mengayak kompos yang telah masak supaya didapat ukuran yang sesuai
Ukuran lubang saringan sesuai dengan ukuran kompos yang diinginkan
Saringan dapat berupa papan saring yang dimiringkan atau saringan putar

Termometer

Dipakai untuk mengukur suhu tumpukan
Di bagian ujungnya dipasang tali untuk mengulur termometer ke sisi dalam tumpukan serta menariknya kembali dengan cepat
Semestinya dipakai termometer alkohol (bukan air raksa) supaya tidak mencemari kompos bila termometer pecah

Timbangan

Dipakai untuk mengukur kompos yang akan dikemas sesuai dengan berat yang diinginkan
Type timbangan bisa sesuai dengan keperluan penimbangan serta pengemasan

Sepatu boot

Dipakai oleh pekerja membuat perlindungan kaki saat bekerja supaya terlepas dari beberapa bahan berbahaya

Sarung tangan

Dipakai oleh pekerja membuat perlindungan tangan saat lakukan pemilahan bahan serta untuk pekerjaan lainnya yang membutuhkan perlindungan tangan

Masker

Dipakai oleh pekerja membuat perlindungan pernafasan dari debu serta gas bahan terbang lainnya

Kompos Bahan Organik serta Kotoran Hewan

Pengomposan juga dapat memakai alat mesin yang semakin maju serta moderen. Komposter tipe Rotary Kiln, contohnya, berperan dalam memberikan konsumsi oksigen (intensitas aerasi), mengawasi kelembaban, suhu dan membalik bahan dengan praktis. Komposter tipe Rotary Klin di market ada dengan kemampuan 1 ton sama dengan 3 m3 sampai 2 ton atau sama dengan 6 m3 bahan sampah, memakai proses pembalikan bahan serta mengatur aerasi lewat cara mengayuh pedal dan memutar aerator (exhaust fan). Pemakaian komposter Biophoskko dibarengi aktivator kompos Green Phoskko (GP-1) sudah dapat tingkatkan kerja penguraian bahan organik (dekomposisi) oleh jasad renik jadi 5 sampai 7 hari saja.

Tingkatan pengomposan

Pemilahan Sampah

Pada step ini dikerjakan pembelahan sampah organik dari sampah anorganik (barang lapak serta barang beresiko). Pemilahan mesti dikerjakan dengan cermat karena akan memastikan kelancaran proses serta kualitas kompos yang dihasilkan

Pengecil Ukuran

Pengecil ukuran dikerjakan untuk memperluas permukaan sampah, hingga sampah bisa dengan cepat dan mudah didekomposisi jadi kompos

Pengaturan Tumpukan

Bahan organik yang sudah melalui step pemilahan serta pengecil ukuran lalu disusun jadi tumpukan.
Design penimbunan yang biasa dipakai merupakan design memanjang dengan dimensi panjang x lebar x tinggi = 2m x 12m x 1, 75m.
Pada setiap tumpukan bisa dikasih terowongan bambu (windrow) yang berperan menyalurkan hawa didalam tumpukan.

Pembalikan

Pembalikan dilakuan untuk buang panas yang terlalu berlebih, masukkan hawa fresh ke tumpukan bahan, meratakan proses pelapukan di tiap-tiap sisi tumpukan, meratakan pemberian air, dan menolong penghancuran bahan jadi partikel kecil-kecil.

Penyiraman

Pembalikan dikerjakan pada bahan baku serta tumpukan yang sangat kering (kelembaban kurang dari 50%).
Dengan manual butuh tidaknya penyiraman bisa dikerjakan dengan memeras segenggam bahan dari sisi dalam tumpukan.
Jika ketika digenggam lalu diperas tidak keluar air, karena itu tumpukan sampah mesti ditambahkan air. sedang bila sebelum diperas telah keluar air, karena itu tumpukan sangat basah oleh karenanya butuh dikerjakan pembalikan.

Pematangan

Sesudah pengomposan berjalan 30 – 40 hari, suhu tumpukan akan makin alami penurunan sampai mendekati suhu ruang.
Ketika itu tumpukan sudah lapuk, berwarna coklat tua atau kehitaman. Kompos masuk pada step pematangan saat 14 hari.

Penyaringan

Penyaringan dikerjakan untuk mendapatkan ukuran partikel kompos sama dengan keperluan dan untuk memisahkan beberapa bahan yang tidak bisa dikomposkan yang lolos proses dari pemilahan di awalnya proses mesin pengayak kompos.
Bahan yang belumlah terkomposkan dikembalikan ke tumpukan yang baru, sedang bahan yang tidak terkomposkan dibuang menjadi residu.
Pengemasan serta Penyimpanan
Kompos yang sudah disaring dikemas dalam kantung sama dengan keperluan pemasaran.
Kompos yang sudah dikemas disimpan dalam gudang yang aman serta terlindung dari peluang tumbuhnya jamur serta tercemari oleh bibit jamur serta benih gulma serta benih lainnya yang tidak diharapkan yang mungkin saja terikut oleh angin.
Kontrol proses produksi kompos
Proses pengomposan memerlukan pengendalian supaya mendapatkan hasil yang baik.
Keadaan baik buat proses pengomposan berbentuk kondisi lingkungan atau habitat dimana jasad renik (mikroorganisme) bisa hidup serta berkembang biak dengan maksimal.
Jasad renik memerlukan air, hawa (O2), serta makanan berbentuk bahan organik dari sampah untuk membuahkan daya serta tumbuh.

Proses pengontrolan

Proses pengontrolan yang perlu dikerjakan pada tumpukan sampah merupakan :
  • Monitoring Temperatur Tumpukan
  • Monitoring Kelembapan
  • Monitoring Oksigen
  • Monitoring Kecukupan C/N Ratio
  • Monitoring Volume
  • Kualitas kompos
Kompos yang berkualitas merupakan kompos yang sudah terdekomposisi dengan prima dan tidak memunculkan beberapa efek merugikan buat perkembangan tanaman.
Pemakaian kompos yang belumlah masak akan mengakibatkan terjadinya pertarungan bahan nutrien pada tanaman dengan mikroorganisme tanah yang menyebabkan terhambatnya perkembangan tanaman. gunakan mesin mixer kompos.

Kompos yang baik mempunyai beberapa ciri seperti berikut :

  • Berwarna coklat tua sampai hitam serupa dengan warna tanah,
  • Tidak larut di air, walau beberapa kompos bisa membuat suspensi,
  • Nisbah C/N sebesar 10 – 20, bergantung berbahan baku serta derajat humifikasinya,
  • Berefek baik bila diterapkan pada tanah,
  • Suhunya kira-kira sama juga dengan suhu lingkungan, dan
  • Tidak bau.

No comments:
Write komentar